Menkeu & Bank Sentral ASEAN Kumpul di Jakarta, Ini Hasilnya!

Menkeu & Bank Sentral ASEAN Kumpul di Jakarta, Ini Hasilnya!

Menkeu Sri Mulyani 10th AFMGM (Tangkapan Layar Youtube)

Menteri keuangan dan gubernur bank sentral ASEAN akhirnya merampungkan pertemuan kedua, ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (AFMGM) yang berlangsung di Jakarta, pada 22-25 Agustus 2023.

Dalam pertemuan empat hari, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral ASEAN menyepakati sejumlah poin kerja sama dan kebijakan yang dapat diimplementasikan ke depannya, dalam rangka memperkuat stabilitas ekonomi masing-masing negara dan kawasan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan poin-poin kesepakatan dari pertemuan AFMGM.

Dalam cakupan ekonomi global, Sri Mulyani mengungkapkan https://www.alternatifkas138.online/ AFMGM membahas 3 sasaran strategis. Pertama, pemulihan dan pembangunan kembali. Kedua adalah ekonomi digital dan ketiga, agenda keberlanjutan.

“Menteri Keuangan dan gubernur mendiskusikan bagaimana ASEAN mempertahankan momentum dan ketangguhan ini secara kolektif mengatasi tantangan termasuk semakin intensifnya ketegangan geopolitik, meningkatnya tekanan utang, kebijakan fragmentasi, terbatasnya pertumbuhan global dan ancaman teknologi, kerentanan pangan dan energi serta perubahan iklim,” kata Sri Mulyani dalam Joint Conference AFMGM, Jumat (25/8/2023

Sri Mulyani menambahkan AFMGM menggarisbawahi bauran kebijakan ekonomi ASEAN untuk memungkinkan negara-negara anggota ASEAN untuk menggunakan perangkat yang tersedia.

Hal ini dalam rangka untuk memastikan stabilitas perekonomian ASEAN. “Pertemuan ini juga menggarisbawahi pentingnya tindakan kebijakan yang terkoordinasi baik untuk atasi risiko multisektor ini,” kata Sri Mulyani.

Untuk kepemimpinan ini, Indonesia menginisiasi upaya di pasar keuangan ASEAN untuk memperkuat kolaborasi dengan badan-badan sektor lainnya di forum ASEAN

“Inisiatif ini dalam bentuk pertemuan tingkat menteri bersama dimana penting untuk mengatasi dan menjawab tantangan regional secara lebih terkoordinasi dengan pendekatan lintas sektor karena saat ini kita lihat persoalan manapun tidak bisa diselesaikan oleh satu menteri saja oleh karena itu, kita inisiasi pertemuan lintas sektor,” ujarnya.

Dalam hal koordinasi ini, Sri Mulyani menjelaskan ada dua agenda perluasan yang dibahas lintas sektor. Pertama adalah sektor kesehatan dan Keuangan. Kedua adalah diskusi terkait ketahanan pangan. Pertemuan menteri kesehatan dan menteri keuangan, AFHMM yang dilaksanakan pada 24 Agustus 2023, menjadi dasar untuk berlanjutnya kerja sama dan kesiapan respons dan pencegahan pandemi di Asia Tenggara.

“Sebagaimana telah dilaporkan studi ADB dan potensi untuk mobilitas modalitas pembiayaan di kawasan ASEAN termasuk dengan manfaatkan pandemi lain dan ASEAN Respons Fund,” kata Sri Mulyani.

Terkait dengan ketahanan pangan, pemerintah ASEAN akan memperkuat keterlibatan sektor keuangan untuk pastikan ketahanan pangan regional dan global. Ini dijalanan dengan memanfaatkan akses badan-badan lain.

Sri Mulyani menambahkan kolaborasi lintas sektor ini melampaui sektor keuangan untuk memperbaiki kebijakan dalam rangka mengatasi kerentanan atau kerawanan pangan dan memastikan akses dan ketersediaan kesehatan. Terakhir, kolaborasi ini juga dapat meningkatkan akses pembiayaan UMKM petani-petani kecil untuk mendukung ketahanan pangan dan memperkuat fasilitas perdagangan untuk mendorong tercapainya ketahanan pangan.

Lebih lanjut, untuk mendukung capaian pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan di kawasan ASEAN, Sri Mulyani menuturkan para menteri keuangan dan gubernur menyepakati adanya peningkatan pembiayaan infrastruktur melalui reposisi ASEAN infrastructure fund menjadi ASEAN Green fund.

“Tujuannya untuk mendorong infrastruktur berkelanjutan di ASEAN. Terkait ini, kami sepakati kita perlu menyelaraskan ASEAN infrastructure fund dengan ASEAN taxonomy for sustainable financing,” kata Sri Mulyani.

Selain itu, pertemuan ini menyepakati pendanaan transisi untuk mendukung pencapaian ekonomi rendah karbon di kawasan ASEAN.

“Kami semua sangat menyadari perubahan iklim ancaman nyata dan kita perlu respons cepat pembiayaan transisi. Oleh karena itu, menjadi sangat penting dalam pertemuan ini juga diskusikan ASEAN taxonomy financing,” tambahnya.

Menurut Sri Mulyani, ASEAN taxonomy adalah taksonomi hijau pertama di dunia yang memuat transisi energi sebagai klasifikasi hijau.

Dalam AFMGM, gubernur dan menteri keuangan juga menyepakati adanya diskusi berkala untuk topik-topik yang menjadi kepentingan bersama di dalam hal perpajakan dan kepabeanan dalam hal pertukaran informasi, serta risiko bencana iklim, terutama instrumen pembiayaan, pembiayaan lebih efektif dalam menjawab ancaman hal ini dan memitigasi risiko.

AFMGM juga mendukung kemajuan blue print masyarakat ekonomi ASEAN 2025.

“Kami bertukar visi pelaksanaan blue print ini kami ingin ini kokoh dan relevan dengan perkembangan pesat ini bidang-bidang yang kami bahas sama-sama,” ungkap Sri Mulyani.

Terkait dengan bidang kebanksentralan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menambahkan pertemuan menteri keuangan dan gubernur BI telah menyepakati bahwa ASEAN membutuhkan penguatan kebijakan makroekonomi dan bauran ekonomi untuk lebih dapat berdaya tahan terhadap persoalan global sehingga ASEAN tetap pada jalur pemulihan ekonomi dengan sistem makroekonomi yang stabil.

“Pada kepemimpinan ASEAN Indonesia, baruan kebijakan diakui dan dipahami serta dilaksanakan di ASEAN sebagai kerangka kebijakan yang sangat penting untuk dilaksanakan terutama dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian global,” kata Perry.

Perry pun memberikan contoh penerapannya di Indonesia. Menurutnya, Indonesia adalah salah satu contoh yang menerapkan bauran kebijakan makroekonomi. Pertama, Indonesia memperkuat koordinasi ekonomi antara pemerintah fiskal serta kebijakan moneter.

“Di sini kita melihat Indonesia melakukan kolaborasi erat di mana kita selaraskan kebijakan fiskal dan moneter dan mempertahankan stablitasnya,” ujarnya.

Kedua, kebijakan makroekonomi dan moneter tidak hanya mengenai ketentuan bunga, tapi menjaga stabilitas dan mengatur arus modal. Ketiga, kata Perry, Indonesia menggunakan kebijakan makroekonomi untuk mendukung pembiayaan ekonomi.

AFMGM telah menjalankan upaya untuk mengarusutamakan makroekonomi ini melalui berbagai platform diskusi tingkat kerja di luar KTT yang dipimpin oleh Bank Indonesia dan Bank of Thailand pada Agustus 2023.

Pemimpin ASEAN sudah mendukung dan berkomitmen memperluas sistem pembayaran antar negara.

“Ini upaya yang sudah disepakati Menteri Keuangan dan bisa untuk dilakukan dalam tiga bidang yaitu transaksi mata uang lokal untuk fasilitas perdagangan dan investasi, transaksi mata uang lokal dan pembayaran lintas batas,” paparnya.

Selanjutnya, AFMGM menyepakati penguatan inklusi keuangan dan literasi keuangan dalam wilayah ASEAN. ASEAN sudah menyelesaikan pedoman untuk meningkatkan literasi keuangan di ASEAN yang bertujuan untuk pedoman berbasis kewilayahan dan menjadi komplementer terhadap agenda inklusi keuangan sebagai penutup.

Terakhir, Perry mengungkapkan AFMGM sepakat mendirikan task force untuk memenuhi mandat dari kelompok kerja ini.

“Ini untuk meningkatkan stabilitas keuangan ASEAN terhadap tantangan lanskap dinamika di ASEAN. Dalam hal ini kita mendirikan task force,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*