Duh! Rupiah Jeblok ke Atas Rp 14.700/US$, Ada Apa?

Petugas menghitung uang  dolar di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Blok M, Jakarta, Senin, (7/11/ 2022)

Nilai tukar rupiah melemah cukup tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (9/5/2023). Perhatian tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat Rabu besok, sebab ada kemungkinan bank sentral AS (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunganya.

Begitu perdagangan dibuka, rupiah langsung melemah 0,34% ke Rp 14.745/US$. Depresiasi bertambah menjadi 0,48% ke Rp 14.765/US$ pada pukul 9:05 WIB.

Sebelumnya rilis data tenaga kerja AS yang kuat kembali memunculkan ekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga pada Juni. Padahal, dalam pengumuman kebijakan moneter Kamis pekan lalu, bank sentral paling powerful di dunia ini memberikan sinyal akan menghentikan kenaikan suku bunga.

Rilis data inflasi AS besok bisa jadi akan memperkuat ekspektasi tersebut, atau justru pasar semakin yakin The Fed tidak akan menaikkan suku bunga lagi.

Hasil polling Reuters menunjukkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) pada April diprediksi tumbuh 0,4% month-to-month (mtm) lebih tinggi dari sebelumnya 0,1%. Sementara secara tahunan atau year-on-year (yoy) diperkirakan sebesar 5%, sama dengan bulan sebelumnya.

Inflasi inti yang tidak memasukkan sektor energi dan pangan diprediksi tumbuh 0,4% (mtm) sama dengan pertumbuhan Maret, dan 5,5% (yoy) sedikit turun dari bulan sebelumnya 5,6% (yoy).

Prediksi tersebut menunjukkan inflasi di Amerika Serikat masih sulit turun, yang bisa jadi menguatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Apalagi jika inflasi tersebut justru lebih tinggi dari prediksi.

Sebelum rilis inflasi tersebut, nilai tukar rupiah akan cenderung mengalami pelemahan. Sebab penguatanya sepanjang tahun ini cukup tajam dan menyentuh level terkuat sejak Juni 2022, sehingga rentan mengalami koreksi teknikal.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*